Rabu, 02 Maret 2016

Gerakan itu, dinamai Solidaritas Peduli Jilbab

TAHUN lalu, menggunakan celana jeans, berjaket, Selenge’an. Ga lepas dari penampilanku kala itu. Engga pernah kefikiran bisa sampai ketahap ini. Tahap ketika aku benar-benar utuh menjadi seorang pembelajar. Tahap ketika aku merasa, Yaa Allah.. Maha Besar Engkau.. Maha Baik Engkau.. segala pujian, hanyalah untuk Engkau.

Aku adalah perempuan muslim yang baru belajar tentang islam. Boleh disimak ceritaku disini. Mengapa aku katakan demikian?

 Karena aku islam, tapi aku belum mengenal islam. Karena orang tuaku islam, maka jadilah aku islam. Karena aku islam, maka aku harus sungguh-sungguh mempelajari islam. Tapi, karena semangat itu ada di hati dan memang hati diciptakan dengan sifat yang tidak tetap, maka aku butuh penyemangat. Aku butuh teman, agar ketika aku lelah ada tangan yang siap menepuk pundakku. 



*** 

Penghujung januari, aku mendapatkan kabar dari media sosial tentang pembukaan pendaftaran anggota Solidaritas Pedulli Jilbab yang ketiga. Aku sudah mengetahui tentang komunitas ini sebelumnya dari salah seorang temanku. Dengan niat yang aku teguhkan, aku mencoba mendaftar untuk masuk kedalamnya. Sebenarnya, dalam hatiku tidak diterimapun tak mengapa secara memang aku belum punya banyak ilmu yang bisa aku andalkan.

Beberapa kali membuka websitenya, menunggu dengan cemas apakah ada namaku didalamnya namun ternyata belum ada kabar berita. Haha, sempat pesimis. “Yaudahlah, ndak diterima ndak apa-apa. Toh sudah ikutan liqo juga” ucapku sendiri dalam hati.

Dan Alhamdulillah,

Namaku muncul..

Tertulis dengan jelas

Seleksi Tahap I ku berhasil.


Ya, aku berhasil melewati seleksi tahap pertama. Masih ada seleksi selanjutnya, ternyata *aku sendiri mengira setelah pengumuman, berarti aku resmi jadi anggota* aku harus mengikuti seleksi tahap 2. Tes wawancara.


*bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar