Sabtu, 27 Juni 2015

Tentang Perubahan



"Hijrah adalah berubah dari yang buruk ke arah yang lebih baik. Hijrah pun terbagi menjadi tiga yaitu hijrah hati,hijrah lisan dan hijrah perbuatan"

Alhamdulillah, karena hari ini aku belum berkesempatan untuk bisa hadir dalam acara yang dilaksanakan oleh Kelas Inspirasi Batam yaitu Sehari Berbagi bersama Anak Panti Asuhan An-Nur di Dapur 12, maka sabtu sore yang ceria ini aku isi dengan menonton televisi. Acara yang sarat akan nasihat dan sejuk untuk disimak diisi oleh Ustadzah Oki Setiana Dewi dan Ummi Pipik, dua orang aku kagumi dan hari ini mereka membawakan acara dengan tema Hijrah.

Berbicara mengenai hijrah, Rasullullah SAW pernah melaksanakan hijrah dari Makkah ke Madinah. Saat itu, Rasullullah tengah diberi Ujian oleh Allah SWT yaitu kehilangan orang yang ia sayangi. Istrinya Khadijah dan Pamannya Abu Thalib. Saat itu juga, Rasul beserta sahabat dan umatnya sedang dalam kondisi yang tertekan oleh ancaman dari kaum kafir. Maka dari itu, Rasul pun memilih untuk berhijrah.
“Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu berusaha untuk merubahnya”
Jadi inget pengalaman menggunakan jilbab seperti saat ini. Aku memutuskan menggunakan hijab yang Allah perintahkan tahun ini, padahal sudah aku niatkan dari beberapa tahun yang lalu. Tapi ya gitu, hanya sekedar niat tanpa perbuatan. Beli beberapa jilbab di toko online, ketika barang sudah sampai di rumah, segera aku coba dan berkaca. Terbesit didalam hati “Yaa Allah, dengan dosaku yang begitu banyaknya. Dengan kelakuan yang jauh dari kata baik, dengan tutur kata yang jauh dari kata santun, manalah pantas aku menggunakan jilbab sepanjang ini”. Jilbab itupun ku lepas.

Coba lagi menggunakan rok jika sedang bekerja dan kuliah. Hampir beberapa bulan, rok selalu jadi andalan. Tapi, karena stok rok-ku tidak begitu banyak, dan kebanyakan rokku juga mengusam dan ada juga yang robek *nah, kalo ini entahlah kenapa. Mungkin karena akunya yang lasak*, sekali lagi aku menggunakan celana jeans. Dan malah keterusan. Rok pun disimpan dengan rapih.

Pernah juga, mencoba untuk menggunakan gamis ke kampus. Pujian aku terima, tapi entah kenapa aku merasa tidak pantas dengan pujian itu. Sama halnya dengan rok, karena stok gamisku sedikit dengan niat awalku juga hanya coba-coba, gamispun kulepas. Mulai saat itu, jeans dan kaos tidak pernah lepas dari kehidupanku.

Lalu, mengapa aku memutuskan untuk berhijrah dalam bentuk pakaian?

Aku pernah membaca kata-kata dengan bunyi “Taat, tanpa tapi”. Sederhana dan berhasil membiusku. Kembali, sepulang kantor aku coba menghitung stok gamis yang aku punya. Ternyata hanya dua. Ku kenakan gamis itu, berkaca dan kemudian terlintas lagi di dalam hati “Yaa Allah, aku tidaklah pantas!. Jauh dari pantas”. Ku gantung dan kusimpan kembali gamisku.

Keesokan harinya, aku coba bertanya kepada beberapa temanku “Kalo aku pake gamis, gimana ya?”. Ada yang berkata “ya dicoba aja” ada juga yang berkata “kamu yakin?” dan tidak munafik memang, hatiku condong kearah pertanyaan “kamu yakin?”.

Namun, itulah hebatnya Allah. Entahlah, mungkin itulah cara-Nya berbicara padaku. Aku kembali membaca tulisan yang intinya “Jika bukan sekarang, kapan lagi?”. Kemudian, dengan mengucapkan Bismillah aku kenakan baju gamisku yang hanya dua buah setiap harinya selama bergantian. Awalnya memang banyak sekali yang menyangsikan “Halah, paling besok gak pake lagi. Ha ha ha”. Aku hanya menjawab “Doain yaa, semoga kali ini selamanya” tapi Alhamdulillah banyak juga yang mendukung dengan banyak cara, semoga kita semua bisa jadi hamba yang Allah sayang. Aamiin. Aamiin, Yaa Rabbal Aalamiin..

*PS :

- Terimakasih yang teramat banyak kepada Tole aka dartik yang sudah membuka hati aku. Kalo aja ko ga ngajakin aku ketempat bude, ataupun ko ga izinin aku pake semua gamismu satu-satu. Mungkin saat ini aku masih seperti yang dulu.

- Terimakasih buat dek Rani yang udah support kakak
- Terimakasih buat kak Maya yang terus terusan ngajakin aku banyakin gamis sampai dompet tipis. Tapi bener kok apa kata kakak, untuk urusan Akhirat ga boleh pelit.
- Terimakasih buat Nana yang udah mau jadi teman curhat dan berbaik hati memberikan jilbabnya yang syar’i buat aku. Aku terharu pake banget loh na.. semoga Allah selalu sayang samamu..
- dan Terimakasih buat teman-teman yang udah jadi inspirasi aku. Semoga Allah sayang sama kita. Aamiin..

“Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu amat baik untukmu
Boleh jadi kamu menyenangi sesuatu, padahal itu amat buruk bagimu
Allah Maha Mengetahui, sedang kamu tidak”
Al-Baqarah : 216

Aku termasuk perempuan yang jika sedang dirundung perasaan suka terhadap seseorang, maka duniaku terpaut akan orang tersebut. Perasaan itu terkadang membius semangat, terkadang pula mematikan. Padahal, Allah sendiri yang bilang tidak boleh yang namanya pacaran. Tapi, sama halnya manusia lain, aku adalah pemilik selemah-lemahnya iman.

Terkadang aku iri dengan mereka yang dengan tegasnya mengatakan TIDAK! Pada pacaran. Aku salut pada mereka. Semoga Allah memberikan mereka jodoh terbaiknya. Aku sedang dalam proses itu, sedang belajar untuk membenahi diriku sendiri untuk bisa tegas dalam masalah perasaan. Aku tidak ingin berteriak terlalu kencang mengatakan tidak boleh pacaran, tapi aku sedang belajar untuk mengelola hati.

Aku hanya menyetujui, bahwa dengan pacaran tidak akan merubah kita menjadi lebih baik. Karena Allah tidak akan melarang sesuatu, kecuali Ia mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya. Sebagai pelajaraan dan catatan untuk diriku sendiri, dari sebagian besar hal yang kualami sendiri dan hasil curhatan teman-temanku. Pacaran memang tidak menghasilkan apapun, tidak menjamin apapun. Maka sebaik-baik hubungan yang Allah ridhoi memanglah Nikaah.

Aku bersyukur, karena Allah dengan kasih sayang-Nya menjaga aku dengan cara seperti ini. Aku ingat sewaktu aku patah hati, dunia serasa runtuh, pekerjaan jadi tak menentu, di kamar pun Cuma menghabiskan waktu. Aneh. Tapi sekarang aku sadar, mungkin ini memang yang terbaik yang Allah mau karena Allah yang paling mengetahui mana yang bisa membuat aku bahagia.
“Kesabaran itu ada pada guncangan yang pertama”
HR. Tarmidzi
Panikan. Satu kata yang cocok banget mendeskripsikan aku. Dengan pekerjaan yang super banyak dan keinginan untuk segera menyelesaikannya dengan cepat dan benar (tuntutan atasan) menjadikan aku perempuan yang panikan dan berujung dengan tidak sabaran. Kadang juga, apabila ada pekerjaan yang tidak beres, bisa membuat moodku rusak dan jadinya uring-uringan. Yes! Thats my bad. Aku belum menjadi perempuan yang sabar. Semoga aku bisa mengelola hati dan pikiranku. Aamiin.

Jadi tadi sewaktu aku menonton kultum, ummi pipik mengatakan “Jangan minta kesabaran kepada Allah, karena bisa jadi Allah akan menambah Ujianmu. Tapi mintalah pertolongan kepada-Nya karena Allah adalah sebaik-baik penolong” (intinya sih gitu).

Sering, ketika ga bisa mengontrol emosiku untuk masalah yang sepele aku beradu pendapat dengan temanku dan keseringan juga kami jadi diem-dieman. Sering, ketika ga bisa mengontrol emosiku untuk masalah yang menurutku harusnya bisa dipecahkan apabila difikirkan bersama, aku memilih untuk menyelesaikannya sendiri. Aku yang diam. Kadang aku bertanya sendiri dalam hati, Kenapa sihhh?!

“Allah tidak akan memberikan ujian diluar batas kemampuan umat-Nya”

Yes, mungkin ini adalah ujian agar aku bisa mengontrol emosi, intonasi bicara, raut muka, dan pemilihan kata-kata. Kadang, aku merasa yang aku lakukan sudah benar tapi kenyataanya orang lain tidak suka. Mungkin aku harus perbanyak koreksi diri, perbanyak berbenah diri. Hijrah perilaku.
“Berhentilah mendzolimi dirimu sendiri”
Dari cerita diatas, aku simpulkan bahwa aku telah mendzolimi diriku sendiri dengan menjadi egois, sombong, dan emosional. Ternyata kata move on tidak hanya dilakukan untuk orang yang belum bisa melupakan masa lalu, namun juga orang sepertiku yang belum bisa berubah atau hijrah perilaku kearah yang lebih baik. Semoga Allah selalu dan selalu menolongku dan kita semua agar bisa berhenti mendzolimi diri sendiri. Semoga aku dan kita semua bisa belajar memperbaiki diri, sifat dan sikap. Aamiin, Yaa Allah.. Allahumma Aaamiin..

Dan yang terakhir, nasihat yang aku dapatkan dari Kultum itu adalah


“Jadikan sabar dan shalat sebagai penolongmu”

Aku adalah salah satu dari sekian banyak manusia yang percaya bahwa masalah akan dapat lebih mudah diselesaikan apabila kita bercerita kepada Allah, memanjangkan sujud sama halnya seperti memeluk Allah, karena dengan cara itulah Allah mendengarkanku, memalingkan perhatian-Nya kearahku, menatap hanya kepadaku.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar